Suatu ketika, ketika mengutak-atik arsip lama yang berserakan. Tak sengaja kutemukan catatan kecil awal tahun '99. Semasa aku hanyalah seorang aktivis mahasiswa biasa.
Lelah berjuang dan terkapar lelah di koridor kampus USNI setelah hari-hari yang melelahkan sepanjang tahun '98. Pak Harto telah turun, Pak Habibie menggantikan. Tapi kami mahasiswa masih saja di jalanan.Berikut ini adalah coretan yang tersisa. Sebagai kenangan--barangkali ada juga teman-teman seperjuangan yang akan membaca. Sebagai nostalgia kecil bagi kita...Diari Kecil Awal Tahun '99
Jakarta,
awal tahun. Paginya hujan deras mengguyur Jakarta,
bangunkan aku dan beberapa teman yang tidur di koridor kampus USNI sejak
selesai subuh.
Malam tahun baru yang bertepatan dengan bulan puasa telah
dilewati semalam.
Dingin terasa masuk ke pori-pori, menggigit daging.
Beberapa hari ini Jakarta
kurasa cuacanya agak beda dari biasanya. Mungkin saja ini gejala La Nina yang akan datang sebentar lagi
(katanya).
1998 telah dilewati.
Hari-hari melelahkan dalam perjuangan belum juga selesai. Berbagai
peristiwa besar telah terjadi di dalam tahun ini. Badai moneter dan multi
krisis yang keras menerpa dari pertengahan 1997, mengakumulasi dan memuncak di
1998. Ledakan kerasnya telah memaksa Soeharto turun dari singgasananya.
Soeharto turun, Habibie naik menggantikan.
Kami mahasiwa yang “meniduri” gedung rakyat hanya menikmati
kegembiraan sebentar saja. Teriakan marah pun kembali diteriakkan. Ternyata Habibie
pun tak banyak beda dengan “guru”-nya. Parau suara kami mahasiswa dibalas dengan
senjata dan tameng kekuasaan yang nuraninya buta-tuli.
Hari-hari melelahkan mengisi buku harian mahasiswa.
Nyatanya 1999 telah dimasuki. Terkadang gamang hati membayangkan
nasib negeri ini untuk ke depan. Tidak beberapa tahun lagi, 2003 negeri ini akan
ikut pula membuka gerbangnya untuk serta memulai babak baru pasar bebas Asia Tenggara.
Apa yang bisa kami perbuat pada tahun itu? Orde Baru terlanjur menyertakan negeri
ini ikut kompetisi....
Terkadang kecut juga hatiku melihat nasib ke depan. Hari ini
apa persiapanku untuk ke sana.
Langkah kaki masih saja tersandung, banyak persoalan bangsa. Perkuliahan telah banyak
berganti matakuliahnya oleh keadaan. Sementara sebagian kawan-kawan mahasiswa yang
lain masih asik dengan ketekunannya mencari ilmu. Terkadang tergoda juga hati ini
ingin seperti mereka. Tekun berkutat dengan buku-buku dan pelajaran. Tapi tak tega
hati ini ketika keluar dari lingkungan istana kecil-kampus tempat menuntut ilmu.
Menyakitkan dan berinteraksi langsung dengan persoalan bangsa ini. Kemiskinan, pemasungan
demokrasi, melihat rakyat kecil yang hanya bisa menjeritkan suara perutnya. Selain
dari suara perut, mereka tak punya keberanian untuk melantangkan reformasi.
Nasib bangsa ini di tangan pemudalah.
Maka, ada yang dikorbankan. Jika pun terlantar kuliahku, biarlah
rela kulakukan itu. Ingin aku seperti sebagian mahasiswa yang lain, tekun menyiapkan
masa depan. Tapi bunda pertiwi, negeri dan bangsa ini memanggilku. Ikhlas kulakukan
keputusan ini. Demi Tuhan, bangsa dan tanah air, ikut aku memutar roda reformasi.
Jika pun tertatih, atau pun mungkin malah tersingkir di 2003,
biarlah rela kuterima keadaan ini. Seperti lilin, terbakarlah aku untuk terangi
negeri ini. Kalau hanya ini yang bisa kusumbangkan, tenaga dan pikiran rela kuberikan.
Malahan mungkin lebih dari itu, jiwa ini ikhlas kupersembahkan.
Reformasi belum selesai. Perjuangan belum juga ada titik terang
perubahan. 1999 ini, adakah hari-hari baru yang akan dimasuki akan membawa kecerahan.
Reformasi, ataukah revolusi yang akan terjadi? Dalam doa kecil awal tahun, kupinta
pada Ilahi: Rubahlah negeri ini! Limpahilah kami, negeri dan bangsa ini dengan Rahmat-Nya
yang tak berbatas itu. Aamien.
Selamat tinggal 1998; hari-hari untuk Reformasi dan Demokrasi.
Selamat datang 1999; hari-hari harapan dan pencerahan.
Semoga hari ini lebih baik dari kemarin. Dan hari esok lebih
baik pula dari hari ini. Aamien...
Posko USNI,
Jumat, 1 Januari 1999, 11.07 WIB