Goresan

Blog EntryTeman yang Masih MisteriSep 4, '07 5:29 AM
for everyone
“Assalammu alaikum Wr. Wb
lama tak jumpa dan tak ada kunjung kabar dari kita masing2. Alhamdulillah akhirnya bisa silahturahim di blog ini.sepertinya Alloh SWT mempertemukan kawan lama ane yang udah lama ga ada info tentang ente ( wah jadi nostalgia ke jaman pas lagi sama2 aksi di lapangan tahun 98 nih. tapi ketika 2001 kita beda cara perjuangan kita, hiks, hiks, hiks teganya kau bilang kau kalo kami yang turun aksi pada saat itu sebagai mahasiswa2 titipan dan mahasiswa kampus kita tercinta yang turun ke jalan tidak kau akui sebagai kawan2 perjuanganmu juga. ) memang kita pernah bersilang pendapat dengan permasalahan kampus kita tercinta almamater yang membesarkan kita dan dengan permasalahan bangsa kita. Tapi ya sudahlah itu merupakan masa lalu kita. Dan ane fikir permasalahannya saat itu adalah tentang komunikasi dan egoisme kita sebagai orang2 muda yang penuh semangat keyakinan perjuangan kita masing2….
Alhamdulillah kini bang syam sudah menggenapkan separuh agamanya dengan menikahi seorang wanita yang sholehah, semoga Alloh SWT menberikan keberkahan kepada kalian berdua dan semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rohmah. Dan ane pun sekarang Alhamdulillah sudah menikah dan di karuniai satu orang mujahid, yang besar harapanku kelak kepadanya adalah agar tentara kecilku itu menjadi pejuang kebenaran…
oke kawan…sampai jumpa lagi di lain kesempatan dan yang terpenting adalah semoga Alloh SWT memberikan jalan yang lurus kepada kita…amiin ( Abu Jundi 97 )”

Guestbook saya di Multiply tertulis seperti di atas. Penasaran, siapa ya yang menulis dengan nama samaran dan tanpa foto asli.

Kemudian, cahayahidayah wrote on Aug 3:

“Ass.apa kabar bang syam. mampir lagi nich ane. Gimana utk pilkada DKI sdh tentukan calon belom?. kalo ga salah calon ente sdh ke pilihan yang paling tepat yaitu no 1.adang dani…..Ayo Benahi Jakarta…seluruh orang minang juga dukung adang dani…begitu pesan ninik mamak….”

Kembali dia menulis lagi. Dia tahu tentang diri saya. Rupanya teman seperjuangan ketika zaman pergerakan dahulu. Tapi siapa dia, masih misteri. Tanpa nama dan wajah asli.

Lalu saya membalas, hensyam wrote on Aug 3:

“Wa’alaikumsalam Wr. Wb.
Alhamdulillah baik. Gmn kabar ente? Ente masih misteri nih sama saya. Siapa sih nama sebenarnya? Kok masih menyembunyikan identitas?
Untuk pemilu kali ini saya nggak ikutan, tidak terdaftar..:D Tapi untuk selera saya sih lebih sreg dengan Adang-Dani daripada Fauzi-Prijanto. Walau mereka ngaku ahli Jakarta, tapi sudah puluhan tidak terbukti kerja nyatanya. Bagi saya, program sih nomor dua, yang penting amanah terlebih dahulu. Semoga Adang-Dani bisa memegang amanah.”

Di kampus, saya punya banyak teman seperjuangan. Pertemanan saya dalam perjuangan adalah dalam kesamaan cita-cita. Tanpa ada tendensi apa, siapa danbagaimana latar belakangnya. Zaman pergerakan, yang satu cita-cita untuk membebaskan rakyat dan negeri dari penindasan adalah teman saya. Tapi siapa orang ini?

Kembali dia menulis, cahayahidayah wrote today at 12:24 PM

“Assalamu alaikum Wr. Wb. apa kabar bang Syam. mohon maaf, saya kunjungan lagi ke MP ente. mohon maaf kalo saya masih jadi misteri buat bang Syam. ada kerinduan memang untuk bertatap wajah secara langsung dan berdiskusi tentang kehidupan yang fana ini dengan bang Syam. walaupun saya sdh cukup lama kehilangan kontak dengan bang syam tetapi Alhamdulillah Alloh SWT mempertemukan kita di dunia maya ini ( thanks for MP ). tapi saya sedikit banyak, saya masih mengikuti perkembangan tentang diri bang Syam, termasuk kini bang Syam jauh lebih religius, penuh dengan nuansa yang Islami. Walaupun sosok bang Syam tidak berbeda jauh dengan yang saya kenal pada saat berjuang sama-sama di kampus kita. Dahulu pun saya mengenal bang Syam sebagai sosok yang cukup kharismatik. dan ini terbukti pada saat perjuangan di kampus pun baik lawan atau kawan cukup memperhitungkan bang Syam sebagai salah satu tokoh pergerakan di kampus ( pernah kami mendukung penuh perjuangan bang Syam saat akan maju menjadi orang no. 1 di kampus kita. akan tetapi kami sempat pula berbeda pandangan dengan bang Syam pada saat bang syam masih menjabat sebagai BL 1) dan tidak berlebihan kiranya bahwa bang Syam adalah ikon tentang pergerakan mahasiswa di tahun 98 di dalam dan diluar kampus. Pada awal saya mengenal pergerakan mahasiswa di kampus kita, jujur saya melihat pada diri bang Syam adalah sosok orang memiliki karakter cukup kuat, penuh dengan ambisi dan semangat untuk melakukan perubahan demi bangsa, negara dan agama. Dan sekali lagi ini terbukti dengan karir politik Bang Syam di kampus dan di luar kampus yang cukup cemerlang. Dan yang cukup saya kagum terhadap bang Syam adalah walaupun bang Syam tergabung dengan komunitas yang warna-warni dan beraneka ragam, bang Syam tidak ikut larut dalam warna-warni tersebut dan bahkan bang Syam cukup berhasil memberikan warna bang Syam bagi yang lainnya. Oke bang Syam mungkin itu saja yang bisa saya ceritakan kenangan saya bersama Bang Syam di kampus Budi Luhur. oh iya ….hampir terlewat. salam untuk keluarga, semoga Alloh SWT senantiasa melindungi keluarga ente…Salam…:) ( Abu Jundi 97 )”

Saya bergaul di mana-mana dan siapa saja, dari teman-teman yang beraliran Kiri, Kanan sampai Garis Tengah. Jujur, sewaktu kenaikan saya menjadi orang nomor 1 di kampus dahulu kala, basis massa saya adalah teman-teman Rohis (Kerohanian Islam), mereka basis massa solid saya ketika saya dihadang oleh cecaran Unit-unit Kegiatan mahasiswa (UKM), organisasi mahasiswa atau kelompok-kelompok massa lain di kampus. Mereka juga penjaga saya ketika saya harus berhadapan dengan elit kampus, ketika saya harus mengatakan “tidak!” atas kebijakan yang mereka buat.

Saya juga dekat dengan kelompok-kelompok preman di dalam dan luar kampus. Kelompok ini kami sebut UK-PR, singkatan dari Unit Kegiatan Preman. Ketika ada benturan politik atau kepentingan dan saya diintimidasi, kelompok inilah yang jadi backing saya. Bergaul dengan orang-orang ini, tanpa perlu pula saya menjadi seperti mereka. Saya ingin menjadi nilai kebaikan yang saya pegang sedari kecil.

Angin politik pergerakan akhir ‘90-an memaksa mahasisa dan pemuda untuk memilih mainstream gerakan masing-masing. Beberapa gerakan mahasiswa beraliansi dengan gerakan tertentu atau memang mereka ada yang menjadi under bow partai politik atau gerakan tertentu. Saya dan teman-teman kelompok saya lebih memilih jalur independen. Kami lebih merdeka menyuarakan suara kami. Hal ini memaksa saya terkadang berhadapan dengan kelompok-kelompok pendukung saya yang memajukan saya menjadi orang nomor 1 di kampus.

Terkadang isu-isu politik nasional kekinian memaksa mahasiswa untuk menyikapinya. Memaksa harus memilih, anda siapa? Kawan atau lawan? Gerakan mahasiswa pun masuk pada gerakan politik praktis. Ini yang saya tidak mau.

Kebencian saya pada suatu kelompok, tidak membuat saya kehilangan obyektifitas terhadapnya. Janganlah kebencian kalian pada suatu kaum membuat kalian berlaku tidak adil. Ketika ada gerakan mahasiswa yang masuk wilayah dukung-mendukung figur, demo anti Megawati, demo anti Gus Dur, saya dan teman-teman memilih tidak masuk pada wilayah ini. Kami lebih memilih gerakan moral: POTONG SATU GENERASI! Sebuah gerakan kebudayaan, moral dan politik untuk memangkas nilai-nilai lama yang bobrok, mengganti dengan nilai baru yang lebih baik. Kita tentu tidak bisa memelihara penyakit yang tak terobati. Pangkas, amputasi tentu saja diperlukan. Mungkin Anda pernah dengar istilah ini, jujur saja kamilah yang menginisiasi dan mempopulerkan istilah ini. Sebuah gerakan yang bisa satu buku untuk menjabarkannya.

Ketika ada teman, atau kelompok memilih kebencian atau antipati pada seseorang atau kelompok, saya pribadi lebih memilih sisi baik mana yang akan saya pilih. Kebencian saya pada sesuatu, tidak membawa saya membabi-buta menghilangkan kebaikan daripadanya.

Ah, rindu pada masa-masa dahulu. Tapi hari ini adalah kenyataan. Banyak kawan datang dan pergi. Banyak pula kawan yang berahasia.

Kembali kepada isi guestbook saya di Multiply tadi. Saya percaya, beliau yang menulis di atas adalah salah satu teman seperjuangan saya dahulu. Pilihan cara, atau kendaraan dan model cita-cita yang kita inginkan tentu saja berdasarkan latar belakang dan keyakinan masing-masing. cahayahidayah, siapa pun dirimu, engkau tetap temanku seperti engkau menganggapku. Walau ku tak tahu siapa ada dirimu. Jika misteri adalah pilihanmu, biarlah masa yang akan menceritakan siapa dan apa dirimu nanti.

Wassalam,

http://hensyam.co.nr


Blog EntryMENULIS ITU SEHAT DAN MENYENANGKANJun 7, '07 4:36 AM
for everyone
(Tulisan ini adalah postingan saya untuk komunitas TDA (Tangandiatas). Tapi walaupun begitu, ada spirit juga yang bisa diambil disini. Terimakasih- Syam, Penulis)

Ya
, ternyata menulis itu menyehatkan dan menyenangkan. Ibarat gelombang, atau angin pusaran, ide yang menggejolak dalam diri butuh untuk disalurkan. Jika tak tersalurkan, ia akan menghantam dinding-dinding batin. Maka, stress melanda diri, atau penyakit jiwa lainnya akan mendera.

 
Kalau pun tak bergejolak isi kepala atau dada, tetap saja diri kita harus butuh saluran. Ibarat air, jika air mati, seperti lubuk dalam yang memendam rahasia, misteri dan hantu-hantu bersarang disana. Kolam yang tak mengalir, yang busuk-busuk bisa bersarang di dalamnya. Tapi sungai yang mengalir... luar biasa kesegaran ada disana.

 
Saya teringat dengan ayahnya Pak Haji Alay (The founding father TDA). Saya tak tahu persis umurnya. Tapi melihat dari penampakannya saya berpikir untuk orang biasa setua beliau pastilah sudah tidak kuat lagi untuk kemana-mana. Tapi masyaAllah, setua itu beliau masih ke pasar, tiap hari pula! Malah beliau jadi kasirnya Pak Haji. Semua transaksi di ruko Pak Haji disetor ke beliau. Selian itu, apa kerjaannya di pasar? Beliau menulis! Yah, beliau menulis, dengan mesin ketik tuanya. Tik, tik,tik,  jari-jari tua beliau menekan tuts-tust mesin ketik. Tidak dengan komputer, tapi dengan mesin ketik tua yang sering kita lihat di kantor-kantor kelurahan, atau kantor polisi kecamatan. Dan tidak tanggung-tanggung yang ditulis beliau, sebuah kitab tafsir Al-Quran. Saya ngobrol-ngobrol dengan beliau, antusias beliau menyampaikan cerita tentang ambisinya ingin menyelesaikan kitab tersebut.

 
Kita lihat, orang-orang yang suka menulis kebanyakan mereka sehat-sehat.

 
Menulis itu menyenangkan. Tak percaya? Lihat saja orang-orang yang suka menulis, kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang menyenangkan. Sebut saja di TDA, ada Pak Roni, Pak Sopa, Pak Fauzi, Pak Hadi, Pak Faif, Pak Wuryanano, dan yang lainnya yang produktif menulis. Bukankah berdekatan dengan mereka sangat menyenangkan?

 
Orang-orang yang suka menulis ibarat air yang mengalir dari gunung. Kesegaran dan kejernihan memancar darinya. ‘Gimana nggak akan sehat, sebab kesegaran selalu mengalir bersamanya?

 
Tuangkanlah ide-ide yang ada dalam kepala dan dada Anda. Sebagai penyalur dari kegundahan diri, sebagai kanal yang mengalirkan tumpukan spirit Anda, menulis juga menjadi ladang amal bagi kita. Bukankah dari tulisan-tulisan yang menyegarkan, mensugesti orang menjadi lebih baik, dan menambah khazanah pengetahuan dan akan menjadi kebaikan buat kita. “Sampaikanlah, walaupun satu ayat!”, baginda Rasulullah Muhammad telah menyuruh kita. Menulis itu juga beramal, sebarkan spirit Anda!

 
Dari tulisan kita juga bisa melakukan perubahan. Bukankah TDA ini lahir dari tulisan-tulisan? Pak Roni telah memulai, banyak yang terprovokasi. Lalu lahirlah sebuah komunitas yang luar biasa: TANGANDIATAS. InsyaAllah tidak lama lagi kita akan melihat INDONESIA YANG LUAR BIASA akan tercipta! Bukankah, sekarang saja sudah terlahir orang-orang luar biasa yang menjadi TDA? (Tangan di atas—pengusaha).

 
Alhamdulillah, disaat menulis ini saya kembali menemukan spirit lama saya. Zaman mahasiswa saya cukup produktif menulis, walau cakupannya di majalah kampus dan seputaran Jakarta. Menulis di panflet, selebaran perjuangan mahasiswa ternyata mampu menggerakkan mahasiswa turun ratusan, bahkan ribuan ke jalanan. Dari tulisan, saya bisa membakar anggota saya dan mahasiswa sewaktu masih jadi Presiden Mahasiswa dulu.

 
Menulislah, karena menulis itu sangat menyenangkan dan menyehatkan!

  
Salam FUUUNtastic!

 
Syam

hensyam.wordpress.com

efashion.co.nr

bourgoutti.co.nr

Blog EntryVIRUS TANGANDIATASJan 30, '07 11:38 PM
for everyone
Sudah beberapa hari ini badan merasa aneh. Serasa dada berirama tidak seperti biasanya. ’Ntah dak dik duk, ntah serasa diremas-remas, ntah apa namanya sulit untuk dijelaskan. Tapi yang jelas, sudah beberapa hari ini aku seperti ”tersapa”—kalau orang Minang bilang. Sebuah kondisi untuk menjelaskan suasana badan di luar kewajaran. Biasanya ”tersapa” dikonotasikan kalau seseorang diganggu oleh makhluk halus.
Tapi ini beda, bukan makhluk halus penyebabnya.

Tidur pun diisi mimpi yang lain. Siang hari pikiran, semangat jadi beda.

Kira-kira suasana hati seperti orang yang kepincut asmara, dada bergejolak tidak menentu. Atau kalau kita berada pada suatu kondisi percepatan, serasa adrenalin memacu diri. Antara kondisi termotivasi dan terobsesi. Gelisah saja bawaannya diri... Wah.. gak boleh lama-lama dan berdiam diri nih. Pokoknya harus bergerak!

Apa penyebabnya......?

Ntah kenapa, semenjak hari minggu yang lalu (28/01/07) setelah menghadiri milad TDA aku jadi beda.

Melihat para provokator bicara dan sharing, panas juga hati ini. Melihat teman-teman milis di wisuda dari sebelumnya tangan di bawah (tdb) dan sekarang jadi tangan di atas (tdb), diri ini terprovokasi. Tahun depan, aku ntar yang berdiri di panggung itu, diwisuda sebagai seorang manusia tangan di atas. Pokoknya aku harus seperti mereka, bahkan lebih!

Ahaa.. mungkinkah seorang tdb sepertiku bisa seperti mereka? Life rich, money rich? Bisa apa seorang yang baru memiliki satu gerobak es buah, yang belum bisa memberikan keuntungan berambisi tahun depan sudah punya mobil dan rumah….??? Beromset jutaan, ratusan juta, milyaran…?

Tidak ada kata tidak bisa, pasti bisa!

Milad TDA kemarin benar-benar sangat membekas di jiwa ini. Sampai-sampai kebawa mimpi. Terlepas dari beberapa kekurangan teknis acara, moment itu telah melambungkanku. Bertemu dengan orang-orang yang sukses.
Semenjak bergabung dengan tda, sesuatu telah berubah pada diri ini. Aku bukanlah diriku yang dulu lagi. Bercita-cita bekerja? Ah, itulah cita-cita masa lalu. Sesuatu telah tertanam, sesuatu telah mengaliri. Dan sesuatu pun telah tumbuh. Berkembang, berkembang, berkembang dan terus berkembang. Pohon baru telah tumbuh, tinggal menunggu buah.

Point of no return! Terjadi, maka terjadilah!

Waktu milad kemarin aku tak banyak komunikasi. Hanya jadi pengamat saja. Datang berdua dengan isteri, aku lebih banyak jadi penonton. Cuma isteri yang sempat bicara dengan beberapa orang saja. Minderkah?... apa yang bisa aku omongkan dengan orang-orang yang sudah malang-melintang di belantara bisnis, sementara aku cuma seorang pemain baru yang baru beberapa hari berjualan es buah… Topik menarik apa yang kan bisa menjadi entry point untuk bisa masuk dalam pembicaraan bisnis dengan orang-orang sukses ini…? Ntahlah, apa yang mesti dibicarakan. Sepertinya tak punya bahan untuk memulai pembicaraan. Bukankah teori, pengetahuan telah cukup pada diri ini...? Masalahnya.... yang penting action!!! Kalau tidak action, maka pengetahuan akhirnya akan memakan diri sendiri....

Selamat ulang tahun TDA. Selamat buat para wisudawan. Semoga tahun depan kami yang belum bisa menyusul teman-teman.




Kota pelabuhan Iskandariyah pertengah Juli 1945. Jam kayu di sebuah penginapan murah di kota pelabuhan Mesir telah menunjuk angka 22.00 waktu setempat. Di satu ruangan yang tak seberapa besar, empat-puluhan kelasi kapal berkebangsaan Indonesia berkumpul. Sejumlah mahasiswa Indonesia yang tengah studi di Mesir terlihat memimpin rapat.

Beda dengan pertemuan sebelumnya, malam itu atmosfir rapat terasa agak emosionil! Para kelasi Indonesia yang bekerja di berbagai kapal asing yang tengah merapat di Iskandariyah, Port Said, dan Suez itu banyak yang yakin, jihad fii sabilillah yang tengah digelorakan banga Indonesia melawan penjajah belanda dalam waktu dekat akan sampai pada puncaknya.

Muhammad Zein Hassan, salah seorang mahasiswa Indonesia yang hadir, berpesan pada para kelasi agar mulai menabung. “Di saat terjadinya jihad, mereka sebaiknya meninggalkan kapal-kapal sekutu agar tidak menodai perjuangan.”

Sambutan para kelasi yang dalam kesehariannya jauh dari tuntunan agama itu sungguh mengharukan. Mereka dengan sepenuh hati menyanggupi hal tersebut. “Jika fatwa sudah turun, kami akan mematuhi,” ujar salah seorang dari mereka.

Tak terasa, jam telah berada di angka satu. Acara ditutup dengan sumpah setia dengan perjuangan bangsanya yang nun jauh di seberang lautan. Seluruh peserta mengangkat tangan kanan dan dikepalkan. Dengan menyebut nama Allah SWT, mereka bertekad akan membantu dengan sekuat tenaga jihad fii sabilillah yang akan digelorakan bangsanya dalam waktu dekat ini.

Sumpah para kelasi tersebut tidak main-main. Terbukti di kemudian hari, dua bulan setelah proklamasi dibacakan Soekarno-Hatta, dua orang kelasi Indonesia tiba di Kairo dengan berjalan kaki dari Tunisia.

“Saat kami tanya mengapa berjalan kaki sejauh itu, mereka menjawab bahwa mereka menerima fatwa yang dibawa teman-teman mereka dari Indonesia. Fatwa itu menyatakan haram hukumnya bekerja dengan orang kafir yang memerangi kaum Muslimin,” ujar Zein Hassan.

Walau tidak punya cukup uang, dua orang kelasi itu segera meninggalkan kapal sekutu tempatnya bekerja dan berjalan kaki menuju Mesir, karena di Mesir-lah berada banyak orang sebangsanya.

Di Mesir sendiri kala itu tengah berkembang sikap antipati terhadap penjajahan Inggris. Sikap non kooperatif terhadap penjajah Inggris ini dicetuskan oleh salah satu organisasi di sana, yaitu Ikhwanul Muslimin, yang mendapat sambutan luar biasa dari rakyat Mesir.

Sebagai gerakan dakwah yang menembus sekat geografis, Ikhwanul Muslimin telah memiliki “jaringan iman” dengan berbagai gerakan Islam di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Sebab itu, ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, Sekutu dengan sekuat tenaga memblock-out berita ini masuk ke Timur Tengah. Dikhawatirkan jika kemerdekaan Indonesia sampai didengar umat Islam di sana, ini bisa menjadi inspirasi bagi gerakan serupa di Timur Tengah.

Serapat-rapatnya sekutu menutup informasi ini, akhirnya pada awal September 1945, sebulan setelah kemerdekaan Indonesia dibacakan, berita ini sampai juga ke Mesir.

Mansur Abu Makarim, seorang informan Indonesia yang bekerja di Kedutaan Belanda di Kairo, membaca berita kemerdekaan Indonesia dalam suatu artikel di majalah Vrij Nederland. Bagai angin berhembus, berita ini dengan cepat menyebar ke Dunia Islam.

Koran dan radio Mesir memuat berita kemerdekaan RI dengan gegap gempita. Para penyiar dengan penuh semangat mengatakan bahwa inilah awal kebangkitan Dunia Islam melawan penjajahan Barat.

Di Mesir saat itu, seorang Arab hanya dihargai sepuluh pound Mesir jika dibunuh atau dilindas kendaraan militer Sekutu tanpa hak mengadu atau menggugat. Sebab itu, proklamasi kemerdekaan sebuah negeri Muslim terbesar di dunia ini disambut dengan luapan kebahagiaan.

Di sejumlah kota, Ikhwanul Muslimin segera menggelar munashoroh (demonstrasi) besar-besaran mendukung penuh kemerdekaan Indonesia. Ini dijadikannya momentum yang bagus untuk memerdekakan Mesir dari Inggris.

Bukan itu saja, sejumlah ulama di Mesir dan Dunia Arab dengan inisiatif sendiri membentuk “Lajnatud Difa’i’an Indonesia” (Panitia Pembela Indonesia). Badan ini dideklarasikan pada 16 Oktober 1945 di Gedung Pusat Perhimpunan Pemuda Islam dengan Jendral Saleh Harb Pasya sebagai pimpinan pertemuan.

Hadir dalam acara itu antara lain Syaikh Hasan Al Banna dan Prof. Taufiq Syawi dari Ikhwanul Muslimin, Pemimpin Palestina Muhammad Ali Taher, dan Sekjen Liga Arab Dr. Salahuddin Pasya.

Dalam pertemuan yang semata didasari ukhuwah Islamiyah, pakar hukum internasional Dr. M. Salahuddin Pasya menyerukan negara-negara Islam untuk sesegera mungkin mendukung, membantu, dan mengakui kemerdekaan RI. Selain itu, Panitia Pembela Indonesia juga mengancam Inggris agar tidak membantu Belanda kembali ke Indonesia.

“Jika Inggris membantu Belanda untuk kembali ke Indonesia, maka Inggris akan menuai kemarahan Dunia Islam di Timur Tengah!” ancam Salahuddin Pasya.

Sejarah telah menulis, Inggris tetap membela “kawan seakidah” bernama Belanda. Pasukan NICA membonceng Sekutu kembali ke Indonesia.

Pada 25 Oktober 1945, sejumlah ulama NU pimpinan KH. Wahid Hasyim bertemu dan mengeluarkan fatwa jihad fii sabilillah melawan penjajah. Fatwa ini bergema ke seluruh nusantara dan disambut dengan gegap gempita.

Fatwa jihad inilah yang melatarbelakangi pertempuran 10 November 1945 di Surabaya (hingga kini 10 November diperingati sebagai hari Pahlawan di Indonesia). Untuk memompakan keberanian rakyat Surabaya, Bung Tomo lewat corong radio perlawanan – cikal bakal RRI – terus menerus mengingatkan para mujahid bahwa gerbang surga telah terbuka luas bagi mereka yang syahid.

Hanya semangat jihad dan keridhaan Allah SWT yang mampu membuat ribuan rakyat Surabaya berani melawan pasukan Sekutu bersenjata lengkap.

Kedahsyatan pertempuran Surabaya bergema hingga ke Dunia Arab. Keberanian umat Islam Surabaya mengobarkan jihad melawan pasukan Sekutu yang habis mabuk kemenangan dalam Perang Dunia II, ditambah tewasnya satu Jenderal Sekutu – Malaby – di Surabaya, dirasakan oleh kaum Muslimin Timur Tengah sebagai bagian dari kemenangan Islam atas kaum kafir. Upaya perlawanan terhadap Inggris di Mesir pun kian membuncah.

Di berbagai lapangan dan Masjid di Kairo, Mekkah, Baghdad, dan negeri-negeri Timur Tengah, dengan serentak umat Islam mendirikan sholat ghaib untuk arwah para syuhada di Surabaya.

Melihat fenomena itu, majalah TIME (25/1/46) dengan nada salib menakut-nakuti Barat dengan kebangkitan Nasionalisme-Islam di Asia dan Dunia Arab. “Kebangkitan Islam di negeri Muslim terbesar di dunia seperti di Indonesia akan menginspirasikan negeri-negeri Islam lainnya untuk membebaskan diri dari Eropa.”

Dukungan negara-negara Islam di Timur Tengah terhadap kemerdekaan Indonesia tidak saja dilakukan dalam tingkat akar rumput, namun juga dalam dunia diplomasi. Dalam berbagai sidang di Perserikatan Bangsa-Bangsa, terlihat dengan jelas adanya perbedaan sikap antara negeri-negeri Muslim yang mendukung Indonesia dengan negeri-negeri salib yang memandang Indonesia masih bagian dari Belanda.

Wakil-wakil dari Indonesia di sidang PBB, diperbolehkan ikut sidang setelah negeri-negeri Arab mengakui kedaulatan RI, dalam menghadapi serangan pihak Sekutu sering menanggapinya dengan cara diplomatis dan terkesan lunak. Hal ini dikecam keras Muhammad Ali Taher dari Palestina.

“Mengapa kamu masih saja bersikap diplomatis terhadap seseorang yang ingin menghancurkan negeri kamu!” sergahnya mengingatkan wakil dari Indonesia agar tidak takut melawan kezaliman.

Di Mesir, sejak diketahui sebuah negeri Muslim bernama Indonesia memplokamirkan kemerdekaannya dari penjajah kafir, Ikhwanul Muslimin tanpa kenal lelah terus menerus memperlihatkan dukungannya.

Selain menggalang opini umum lewat pemberitaan media, yang memberikan kesempatan luas kepada para mahasiswa Indonesia untuk menulis tentang kemerdekaan Indonesia di koran-koran lokal miliknya, berbagai acara tabligh akbar dan demonstrasi pun digelar.

Para pemuda dan pelajar Mesir, juga kepanduan Ikhwan, dengan caranya sendiri berkali-kali mendemo Kedutaan Belanda di Kairo. Tidak hanya dengan slogan dan spanduk, aksi pembakaran, pelemparan batu, dan teriakan-teriakan permusuhan terhadap Belanda kerap dilakukan mereka.

Kondisi ini membuat Kedutaan Belanda di Kairo ketakutan. Mereka dengan tergesa mencopot lambang negaranya dari dinding Kedutaan. Mereka juga menurunkan bendera merah-putih-biru yang biasa berkibar di puncak gedung, agar tidak mudah dikenali pada demonstran.

Kuatnya dukungan rakyat Mesir atas kemerdekaan RI, juga atas desakan dan lobi yang dilakukan para pemimpin Ikhwanul Muslimin, membuat pemerintah Mesir mengakui kedaulatan pemerintah RI atas Indonesia pada 22 Maret 1946.

Inilah pertama kalinya suatu negara asing mengakui kedaulatan RI secara resmi. Dalam kacamata hukum internasional, lengkaplah sudah syarat Indonesia sebagai sebuah negara berdaulat.

Bukan itu saja, secara resmi pemerintah Mesir juga memberikan bantuan lunak kepada pemerintah RI. Sikap Mesir ini memicu tindakan serupa dari negara-negara Timur Tengah.

Untuk menghaturkan rasa terima kasih, pemerintah Soekarno mengirim delegasi resmi ke Mesir pada tanggal 7 April 1946. Ini adalah delegasi pemerintah RI pertama yang ke luar negeri. Mesir adalah negara pertama yang disinggahi delegasi tersebut.

Tanggal 26 April 1946 delegasi pemerintah RI kembali tiba di Kairo. Beda dengan kedatangan pertama yang berjalan singkat, yang kedua ini lebih intens. Di Hotel Heliopolis Palace, Kairo, sejumlah pejabat tinggi Mesir dan Dunia Arab mendatangi delegasi RI untuk menyampaikan rasa simpati. Selain pejabat negara, sejumlah pemimpin partai dan organisasi juga hadir. Termasuk pemimpin Ikhwanul Muslimin Hasan al Banna dan sejumlah tokoh Ikhwan dengan diiringi puluhan pengikutnya.

Setiap perkembangan yang terjadi di Indonesia, diikuti serius oleh setiap Muslim baik di Mesir maupun di Timur Tengah pada umumnya. Para mahasiswa Indonesia yang saat itu tengah berjuang di Mesir dengan jalan diplomasi revolusi, senantiasa menjaga kontak dengan Ikhwan.

Ketika Belanda melancarkan agresi Militer I (21 Juli 1947) atas Indonesia, para mahasiswa Indonesia di Mesir dan aktivis Ikhwan menggalang aksi pemboikotan terhadap kapal-kapal Belanda yang memasuki selat Suez.

Walau Mesir terikat perjanjian 1888 yang memberi kebebasan bagi siapa saja untuk bisa lewat terusan Suez, namun keberanian para buruh Ikhwan yang menguasai Suez dan Port Said berhasil memboikot kapal-kapal Belanda.

Pada tanggal 9 Agustus 1947, rombongan kapal Belanda yang dipimpin kapal kapal Volendam tiba di Port Said. Ribuan aktivis Ikhwan yang kebanyakan terdiri dari para buruh pelabuhan, telah berkumpul di pelabuhan utara kota Ismailiyah itu.

Puluhan motor boat dan motor kecil sengaja berkeliaran di permukaan air guna menghalangi motor-boat motor-boat kepunyaan perusahaan-perusahaan asing yang ingin menyuplai air minum dan makanan kepada kapal Belanda itu.

Motor-boat para ikhwan tersebut sengaja dipasangi bendera merah putih. Dukungan Ikhwan terhadap kemerdekaan Indonesia bukan sebatas dukungan formalitas, tapi dukungan yang didasari kesamaan iman dan Islam.

Walau pemimpin Ikhwan Hasan Al Banna menemui syahid ditembak mati oleh begundal rezim Mesir di siang hari bolong, 12 Februari 1949, dukungan ikhwan terhadap muslim Indonesia tidaklah berakhir. Dakwah tiada kenal kata akhir, hingga Islam membebaskan semua manusia.

______

Oleh Rizki Ridyasmara, dari Majalah Saksi – No. 21 Tahun VI, 18 Agustus 2004, dengan perubahan seperlunya...


Blog EntryKenangan Awal '99 (Diari Kecil Seorang Aktivis)Jul 18, '06 8:16 AM
for everyone
Suatu ketika, ketika mengutak-atik arsip lama yang berserakan. Tak sengaja kutemukan catatan kecil awal tahun '99. Semasa aku hanyalah seorang aktivis mahasiswa biasa.
Lelah berjuang dan terkapar lelah di koridor kampus USNI setelah hari-hari yang melelahkan sepanjang tahun '98. Pak Harto telah turun, Pak Habibie menggantikan. Tapi kami mahasiswa masih saja di jalanan.

Berikut ini adalah coretan yang tersisa. Sebagai kenangan--barangkali ada juga teman-teman seperjuangan yang akan membaca. Sebagai nostalgia kecil bagi kita...

Diari Kecil Awal Tahun '99

Jakarta, awal tahun. Paginya hujan deras mengguyur Jakarta, bangunkan aku dan beberapa teman yang tidur di koridor kampus USNI sejak selesai subuh.
Malam tahun baru yang bertepatan dengan bulan puasa telah dilewati semalam.

Dingin terasa masuk ke pori-pori, menggigit daging.

Beberapa hari ini Jakarta kurasa cuacanya agak beda dari biasanya. Mungkin saja ini gejala La Nina yang akan datang sebentar lagi (katanya).

1998 telah dilewati.

Hari-hari melelahkan dalam perjuangan belum juga selesai. Berbagai peristiwa besar telah terjadi di dalam tahun ini. Badai moneter dan multi krisis yang keras menerpa dari pertengahan 1997, mengakumulasi dan memuncak di 1998. Ledakan kerasnya telah memaksa Soeharto turun dari singgasananya.

Soeharto turun, Habibie naik menggantikan.

Kami mahasiwa yang “meniduri” gedung rakyat hanya menikmati kegembiraan sebentar saja. Teriakan marah pun kembali diteriakkan. Ternyata Habibie pun tak banyak beda dengan “guru”-nya. Parau suara kami mahasiswa dibalas dengan senjata dan tameng kekuasaan yang nuraninya buta-tuli.

Hari-hari melelahkan mengisi buku harian mahasiswa.

Nyatanya 1999 telah dimasuki. Terkadang gamang hati membayangkan nasib negeri ini untuk ke depan. Tidak beberapa tahun lagi, 2003 negeri ini akan ikut pula membuka gerbangnya untuk serta memulai babak baru pasar bebas Asia Tenggara. Apa yang bisa kami perbuat pada tahun itu? Orde Baru terlanjur menyertakan negeri ini ikut kompetisi....

Terkadang kecut juga hatiku melihat nasib ke depan. Hari ini apa persiapanku untuk ke sana. Langkah kaki masih saja tersandung, banyak persoalan bangsa. Perkuliahan telah banyak berganti matakuliahnya oleh keadaan. Sementara sebagian kawan-kawan mahasiswa yang lain masih asik dengan ketekunannya mencari ilmu. Terkadang tergoda juga hati ini ingin seperti mereka. Tekun berkutat dengan buku-buku dan pelajaran. Tapi tak tega hati ini ketika keluar dari lingkungan istana kecil-kampus tempat menuntut ilmu. Menyakitkan dan berinteraksi langsung dengan persoalan bangsa ini. Kemiskinan, pemasungan demokrasi, melihat rakyat kecil yang hanya bisa menjeritkan suara perutnya. Selain dari suara perut, mereka tak punya keberanian untuk melantangkan reformasi.

Nasib bangsa ini di tangan pemudalah.

Maka, ada yang dikorbankan. Jika pun terlantar kuliahku, biarlah rela kulakukan itu. Ingin aku seperti sebagian mahasiswa yang lain, tekun menyiapkan masa depan. Tapi bunda pertiwi, negeri dan bangsa ini memanggilku. Ikhlas kulakukan keputusan ini. Demi Tuhan, bangsa dan tanah air, ikut aku memutar roda reformasi.

Jika pun tertatih, atau pun mungkin malah tersingkir di 2003, biarlah rela kuterima keadaan ini. Seperti lilin, terbakarlah aku untuk terangi negeri ini. Kalau hanya ini yang bisa kusumbangkan, tenaga dan pikiran rela kuberikan. Malahan mungkin lebih dari itu, jiwa ini ikhlas kupersembahkan.

Reformasi belum selesai. Perjuangan belum juga ada titik terang perubahan. 1999 ini, adakah hari-hari baru yang akan dimasuki akan membawa kecerahan. Reformasi, ataukah revolusi yang akan terjadi? Dalam doa kecil awal tahun, kupinta pada Ilahi: Rubahlah negeri ini! Limpahilah kami, negeri dan bangsa ini dengan Rahmat-Nya yang tak berbatas itu. Aamien.

Selamat tinggal 1998; hari-hari untuk Reformasi dan Demokrasi.

Selamat datang 1999; hari-hari harapan dan pencerahan.

Semoga hari ini lebih baik dari kemarin. Dan hari esok lebih baik pula dari hari ini. Aamien...

Posko USNI,

Jumat, 1 Januari 1999, 11.07 WIB



Blog EntrySetengah AgamaJul 11, '06 3:55 AM
for everyone
Tanggal hari ini, tepat satu bulan pernikahanku. 11 Juni 2006, menikah Helsusandra Syam dengan Helfa Afrianti.
Waktu berlalu mengalir begitu saja dan meninggalkan yang termangu. Langkah hidup telah dijalani... Sebulan berlalu, berapa jauh lagi jarak yang bisa ditempuh...

Apakah yang lebih indah dalam hidup ini, ketika mimpi telah menjadi nyata. Angan menikah adalah angan setiap muslim. Sesungguhnya ia adalah setengah dari agamanya. Beribadah pun semakin indah. Apakah yang lebih romantis ketika bangun tidur, kecup sayang dan salam menyapa. Dan ketika mata pun harus dipejamkan di kala malam, demikian juga adanya, ada kasih-sayang isteri yang menyertai.

Bayangan akan hadirnya bidadari, yang menyejukkan mata dulunya adalah angan. Isteri yang mencium mesra tangan suami, kecup sayang suami pada isteri, salam cinta melepas keberangkatan adalah gambaran khayal keinginan. Dan ketika angan telah menjadi nyata, tidakkah itu karunia terindah yang telah Allah berikan kepada kita....?

"Ya Allah, limpahkanlah kepada kami keluarga yang sakinah, mawaddah warahmah."

Pernah ada yang berkata, bahwa perkawinan itu akan mendatangkan ketenangan. Demikianlah adanya.
Proses pernikahan kami sebenarnya cukup singkat. Tidak mengikuti pola orang kebanyakan, pacaran dulu baru kawin. Kami telah sama berjanji, pacarannya nanti saja setelah nikah. Duh, memang indah sekali. Seperti sepasang sejoli, kemesraan tanpa batas, tanpa halang dan tanpa risau akan dosa.

Isterimu adalah laksana pakaian bagimu.


Memang kami masih baru, masih lama waktu yang akan dilalui. Masih jauh jarak yang akan ditempuh. Tapi kami telah berani untuk melangkah. Telah disepakati bahwa Allah yang menjadi tujuan kami, menjadi penunjuk jalan kami, penerang hidup ini.... InsyaAllah ini akan menjadi bekal kami dalam merintis hidup baru ini, menjelajahi dunia ini...

Tentu saja ada yang berubah. Diriku tidaklah lagi seperti yang dulu... tapi tidakkah semua orang ingin berubah.. berubah menjadi lebih baik....
Kalau dulu, berangkat kerja tak ada yang melepas dengan doa dan cinta, berangkat ngeluyur begitu saja. Sekarang sudah ada yang melepas dengan mesra. Jika dulu makan siang di warung--dimasakin oleh orang, sekarang lebih nikmat bekal dari isteri. Jika dulu seenaknya kemana saja, mau pulang kerja jam berapa, mau pulang dulu atau 'nggak, sekarang sudah ada yang menanti dan harus dikenang agar tak seenaknya lagi.....

Doa Sang Pengantin

Ya Allah,
andai Kau berkenan,
limpahkanlah kepada kami cinta
yang Kau jadikan pengikat rindu
Rasulullah dan Khadijah Al Kubra yang kau jadikan
mata air kasih sayang Iman Ali dan Fatimah Az Zahra
yang Kau jadikan penghias keluarga Nabi-Mu yang suci,
Ya Allah, andai semua itu tak layak bagi kami,
maka cukupkanlah permohonan kami dengan ridha-Mu.
Jadikanlah kami sebagai suami-istri yang saling mencintai,
saling mengingatkan di kala bahagia,
saling mendoakan dalam kebaikan dan ketakwaan,
saling menyempurnakan dalam peribadatan.
Ya Allah, sempurnakanlah kebahagiaan kami ini
sebagai hadiah kepada Mu
dan bukti pengikutan cinta kami
kepada Rasulu-Mu

Amien.

Jakarta, 11 Juli '06. Sebulan kemesraan ini...


Blog EntryMy First JournalNov 28, '05 1:32 AM
for everyone
Menyenangkan juga punya blog sendiri.  Setelah mencoba beberapa layanan blog gratis, saya cukup puas dengan fasilitas yang disediakan oleh multiplity. Fitur-fitur yang disediakan cukup lumayan bagus bagi orang yang awan untuk utak-atik program.
Buat saya, cukuplah menggunakan fasilitas/menu yang telah tersedia disini--daripada harus desain layout sendiri.

Jadi... inilah hasil blog saya. Apakah cukup menarik atau tidak, terserah penilaian anda.
Selamat menjelajahi blog saya ini, komentar dan masukan atau barangkali ada materi menarik dari anda bisa saya tampilkan disini.
..

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help